just some words to remember~

Sebuah tulisan ‘tuk mengenang pertemuan.

keterpanaan pada tiap-tiap wajah begitu terlihat di ruangan itu. Kelihatan sekali, wajah yang antusias bersamaan dengan mata yang berpusat penuh bagaikan alasan vonis keterpanaan itu kusebutkan. Hal ini sebenarnya sangat jauh beda dariku, bagaimana tidak? aku terlena akan waktu dan ‘pun akhirnya menjadi lalai hingga datang terlambat. Karena itulah, diwajahku hanya terpampang kebingungan karena datang tidak tepat waktu.
Sebenarnya, aku ‘pula terlambat dikarenakan ketidaktahuan akan jadwal kehadiran orang hebat itu. Beliau terlihat mewah sekali dengan rentetan kalimat tinggi yang dipaparkannya terkait pengembangan paragraf. Sungguh, penyesalan ‘pun tiba dan meledak dikepalaku. Sepertinya, kepatutan menyesal akan lalainya aku dalam mengelola waktu ini tidak patut diherankan.
Dalam hal ini, aku rasanya ingin mengembalikan waktu saja. rentetan kalimat penuuh pengajaran dan hal yang bermakna telah keluar dari mulut orang hebat itu. Rasanya sangat sia-sia untuk sekedar lupa waktu. Seketika aku memaki diri dan berjanji untuk tidak lagi bersikap dungu. Akankah aku sanggup untuk tidak mendengarkan banyak sekali rentetan kata bagaikan petir halus itu demi sebuah kelalaian yang sungguh dungu? Tentu saja tidak! maka, kuputuskan untuk tidak lagi terlena hingga lalai.
Kembali pada fokus utama tiap-tiap wajah di ruangan dingin akibat kecanggihan masa itu, aku menatap lurus. Tepatnya, ke arah orang hebat yang sedang menjelaskan isi dari materi yang dibawakannya. Sebenarnya, aku kesini lebih berfokus pada makna dan berbagai kata motivasi yang akan terlontar ketimbang materi yang akan disampaikannya. Karena sungguh, pada taip pembahasan materi terkait, akan ada rentetatan kata yang akan menancap kuat dihati membentuk suatu tekad baja yang kokoh. Dengan itu, aku kembali memfokuskan diri pada objek di depan sana.
Oh ya, aku ‘pun ikut dibuat terpana karena dua hal. Pertama, beliau menjelaskan materinya dengan gaya bicara yang mampu mempengaruhi banyaknya jiwa yang menjadi pemilik tiap-tiap wajah kebingungan di sini. Dan kedua, bobot kata yang dihasilkan otaknya dan tersampaikan melalui pita suarana selalu tinggi hingga ke langit yang ketujuh. Bahkan, kalimat itu selalu berhasil menjadi penghipnotis.
Bukti nyatanya, tiap mata di ruangan itu hanya menatap ke arah orang hebat itu sambil menganggukkan kepala. Aku ‘pun demikian. Aku sangat ingat, salah satu kalimat ajaib yang paling berbekas adalah saat beliau berkata,”Saya yakin, kalian adalah calon orang-orang sukses penggenggam dunia,” Beliau lugas sekali. Dan tepat sasaran! Kalimat itu benar-benar menjadi petir halus yang menyambar jiwaku.
Terkait materi yang dibawakan yaitu “Pengembangan paragraf dalam penulisan karya ilmiah”. Konteks yang dibawakan tidaklah berat, apalagi, yang berbicara di depana sana adalah orang hebat. Makanya, materi yang terdengar sulit ini menjadi simple dan easy going. Hal penting dari inti materi ini adalah menerapkan ketentuan paragraf yang baik. Kurasa, ini akan sangat bermanfaat seluruh manusia di ruangan ini.
“Jangan jadi masyarakat umum,” begitu ucapan lugas orang hebat itu. Dan hal ini ‘pun akan sangat bermanfaat bagi kelangsungan tekad baja-ku yang sebelumnya telah hilang entah kemana. Tidak hanya itu, beliau ‘pun mengajarkanku dan seluruh manusia di ruangan ini tentang pentingnya buku sebagai asupan otak manusia. Tak ayal, beliau ingin agar manusia yang ‘tidak umum’ disini memiliki buku yang banyak hingga panjangnya satu meter.
Kembali pada materi yang disampaikan oleh orang hebat di depan sana, aku dan setiap manusia di ruangan itu memetik banyak sekali pengetahuan baru. Semisal, paragraf yang baik memiliki kohesi, koherensi, ketuntasan, konsistensi sudut pandang, dan keruntutan. Selain itu, beliau ‘pun mengajarkan gaya penyajian. Sungguh! Malam itu tidak menjadi sia-sia dengan banyaknya hal yang kupetik.
Setelah materi yang tersampaikan, orang hebat itu kembali mengingatkan setiap manusia di ruangan ini tentang menulis, bahwa menciptakan sebuah tulisan adalah investasi. Benar adanya, investasi seorang penulis akan turun-temurun di beberapa keturunannya kelak. Bahkan, seorang penulis akan selalu hidup di hati tiap-tiap jiwa manusia. Begitulah kiranya, seorang hebat di depan sana menyambarkan kilatan petir halusnya.
        Akhirnya tiba di penghujung waktu, seorang hebat itu harus kembali pada kehidupannya. Tak lupa, beliau meberikan tugas agar setiap manusia di ruangan ini menuliskan kejadian malam itu, tentang kedatangannya dan hal yang terjadi. Maka dari itu, tulisan yang tertuang ini berdasar pada keinginannya yang ‘juga menjadi keinginanku. Aku memanglah benar ingin menuliskan hal yang terjadi pada malam itu. Jadilah benar, keinginanku untuk selalu menuangkan rentetan kata menjadi sebuah kalimat-kalimat yang akan kukenang kelak kembali hadir. Aku ingin menulis, lagi dan lagi. Bukan karena ini adalah keharusan, namun lebih kepada kesukaanku pada menulis.
        Tentang inti dari tulisan ini adalah aku, kamu, dan seluruh manusia haruslah menjadi penulis bagi dirinya sendiri. Karena sungguh! Menulis itu keperluan yang dibutuhkan untuk merileks diri dan bersenang-senang sekejap oleh banyaknya permasalahan sekolah ataupun hal-hal duniawi lainnya. Oh ya, terkait materi yang trsampaikan oleh orang hebat itu, akan selalu ada pelajaran bermakna dan berguna sekali. Hingga rasa terima kasih setinggi gunung dan sedangkal laut tidak akan cukup untuk diberikan kepada orang hebat itu. Sekalipun tak kasat mata, aku berterima kasih padanya dengan melibatkan hatiku.
Sekian.

Komentar