a little words
Aku berlari kencang.
Aku tak
tau arah. Aku kebingungan dan keletihan.
Sungguh! Aku benar-benar harus
beristirahat. Namun, sang pengejar tidak berhenti untuk mengejarku. Katanya,
aku harus mengejar suatu hal yang disebut ‘asa’. Sekali lagi, aku kebingungan.
Kini, batinku mulai meronta, ragaku mulai berteriak, napasku ‘pun sudah keok.
Lalu, apa yang harus kulakukan?
Hey, kau! Apa kau tak dapat
membantuku? Kemana arah selanjutnya? Kemana aku harus berlari? Lalu, apakah
yang disebut ‘asa’ itu?
Aku mulai linglung mengejar ‘asa’. Namun, apa itu ‘asa’?
Aku kebingungan untuk kesekian
kalinya. Rontaan hatiku sudah tak dapat kutahan. Kini, hatiku sudah lepas dari
tempatnya. Hatiku menjauh! ia berlari
karena tak sanggup. Lantas, apakah aku akan sanggup berlari setelah sang hati
‘pun menyatakan ketidaksanggupannya? Sepertinya, aku akan menyerah dan
mengangkat tangan sebagai tanda menyerah.
Kini, aku berbalik. Aku
ingin menantang sang pengejar! Aku tidak ingin keletihanku membuatku menyerah.
Jika ia sang pengejar, aku dapat menjadi sang penantang meski tanpa hati.
Aku
membalikkan kepala dan menghampiri sang pengejar. Ia tak lagi berlari. Mengapa
ia berhenti berlari untuk mengejarku? Bahkan, ia hanya melihatku bagaikan
tembok polos tak bergambar. Tidak hanya keletihan yang menderaku, kini, aku
‘pun kebingungan bukan main setelah melihat tatapan dungu sang pengejar. Apa inginnya?
Aku tetap berjalan
menghampirinya. Aku tak segan menyentuh wajahnya yang terlihat penuh dengan
peluh.
Ternyata, ia ‘pun keletihan sama sepertiku. Dengan itu, aku bertanya,
“mengapa tak mengejarku? Apa kau ‘pun kehilangan hati sepertiku?”
Lantas, ia menjawab, “tidak!
Hatiku tidak selemah hatimu wahai sang pengecut!”
-16/02/2017-
tulisan lama yang kembali terpatri-,-
Komentar
Posting Komentar