Kumpulan Puisi 'kala itu.

“Waktu”
Oleh Annisa

Waktu...
Kau mengembara waktu
Yang lalu telah kau simpan
Kau kenang di dalam jiwa            

Waktu...                   

Pencipta kenangan untukmu                   
Juga pencipta masa depan bagimu                   
Lalu, apa kau tau betapa berharganya sang waktu?
Waktu...Lupa bukan masalah pelik
Namun, apakah waktumu akan menetap?
Tidak! Waktumu akan pergi menjauh!            

Waktu...                  

Kau menyiakannya begitu saja                   
Melupakan satu hal yang pasti                  
Hal bahwa waktu tetap akan pergi menjauh

Waktu...
Ia terbuang begitu saja
Bahkan, saat waktumu hampir usai
Itu kau! Kau pembunuh waktu!                  

Waktu...                   
Ia keletihan menunggumu kembali                   
Waktumu benar-benar hampir usai                   
Maka, kau akan benar-benar menyesal!


“Merindumu”
Oleh Annisa

Jiwaku sungguh merindumu
Sosok dengan raut yang tangguh
Jiwa yang tak pernah merutuk
Hati yang selalu bersih
            

Aku merindu untukmu
Dirimu yang berjuang keras
Menapaki hidup dengan kuat
Lalu, berserah diri memohon

Rinduku menjadi semakin tangguh
Jiwaku mulai berharap cemas
Akankah kerinduanku tidak akan sia-sia?
Ataukah tapakanmu yang kuat akan berakhir begitu saja?
                                  
Jiwaku kembali terharu
Memikirkan sosok dari pemilik jiwa yang tangguh itu
Jiwa yang menjadi bagian hidupku
Lantas, apa aku akan membuatmu bahagia?

Engkau yang kurindukan...
Dengan segenap hati membuatku bermimpi
Dengan jiwa pemberi senyuman
Dengan raut yang membuat relung hatiku bergetar
                  
Kaulah yang sungguh kurindukan
Kaulah alasan kuatku berjuang
Kaulah jiwa yang akan kukenang
Kaulah yang menungguku dengan kesuksesan!


“Ilusi Badaiku”
Oleh Annisa

Jiwaku terhentak keras
Bagai hentakan tak berujung
Aku tak dapat berbicara sepetah kata lagi!
Badai di sana sudah menghampiriku
Sekali lagi! Hentakan itu kembali muncul
Bagai tak ingin kulepas
Tak berujung walau sudah kucari
Apakah yang membuatku terhentak?
Badai itu akan menghantamku
Jiwaku kembali terhentak untuk kesekian kalinya
Lalu, aku sadar dan menjadi bergeming!
Itu... ilusi yang menghampiriku
Badai yang menerjang itulah yang menghentakku
Namun, hentakannya masih terasa
Apakah badai itu nyata?
Atau apakah aku akan terbodohi?
Oleh rasa dan ilusi yang membuatku terhentak
Oleh hal yang sama sekali tak nyata!
Tidak! Dengan lantang aku mengoarkan kata tidak!
Aku tidak akan menjadi bagian dari ilusi
Ilusi yang tak berujung
Itulah ilusi badaiku!






Komentar

Posting Komentar